• Jam Buka Toko: Jam 08.30 s/d 17.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: +6285743448960
  • SMS/WA: +6285743448960
  • distroherbal1@gmail.com
  • Layanan Online:
Terpopuler:

Testimoni Albibet Obat Diabetes

18 April 2015 - Kategori Blog

Berikut kami sajikan TESTIMONI ALBIBET OBAT DIABETES dari AL BIRUNI yang kami kumpulkan dari beberapa sumber:

testimoni albibet obat diabetes,testimoni albibet albiruni

  1. Sri Wening, 60th, Petani, Klaten.Ibu Sri Wening merasa ada yang ganjil dengan dirinya. Tubuhnya cepat sekali lelah saat diajak bekerja. Untuk memastikannya ia pun ke dokter. Hasilnya, Ibu Sri positif mengidap Diabetes Mellitus alias penyakit gula.

    Selama pengobatan kadar gula darahnya tidak stabil. Kadang naik, kadang turun. Pernah, gula darahnya naik sampai 475 mg/dL. Pernah juga drop sampai 70 mg/dL. Hingga membuatnya pingsan. Kejadian itu membuatnya stress. Hampir setiap malam ia menangis. Ia sedih lantaran tidak bisa lagi membantu suami bekerja di sawah dan ladang.

    Semakin lama penyakit gulanya semakin bertambah parah, ada pembusukan (gangrene) di tumit kaki kiri. Jari-jemari kakinya putus sedikit demi sedikit.
    Bulan Mei 2012 ibu Sri berkenalan dengan teman anaknya. Olehnya ibu Sri disarankan untuk minum herbal diabet ALBIBET. Karena sangat ingin sembuh, Ibu Sri bersedia mencobanya. Ia mengonsumsi ALBIBET sesuai anjuran. 3 kali sehari, 2 kapsul sekali minum. obat dari dokter tidak serta merta ia tinggalkan. Saat mengonsumsi botol kedua ALBIBET, baru obat dokter benar-benar ia tinggalkan.

    Alhamdulillah, perkembangan mulai terlihat.Berangsur-angsur, luka di kaki mengering dan menutup sedikit demi sedikit. Begitu pula, jari-jemarinya. Kadar gula darahnya sudah stabil di angka 115 – 120 mg/dL. Kini Ibu Sri lebih bersemangat menjalani hari-harinya.

  2. Ibu Munawaroh, 50 Tahun, Palangkaraya

    Namanya Munawaroh. Saat ini, usianya 50 tahun. Ia mengeluhkan rasa capek yang tidak kunjung hilang. Hingga akhirnya, suatu saat ia merasa tubuhnya benar-benar tidak nyaman. Ia pun ke dokter. Setelah dicek kadar gula darah Munawaroh 330-an mg/dL. Selain itu, ia juga divonis mengalami obesitas (kegemukan). Berat badannya naik menjadi 70 Kg lebih. Mau tidak mau, ia harus menjalani perawatan. dengan mempertimbangkan beberapa hal, ia memilih berobat jalan.

    Selama perawatan, selain harus meminum obat, insulin disuntikkan dua kali sehari ke tubuhnya. Hal ini, berjalan kira-kira setahun lebih. Selama itu, yang dirasakan hanyalah lemas. Kadang, untuk berjalan saja tidak kuat. Kesemutan setiap hari menghampiri. Praktis, rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga ia tinggalkan.

    Suatu hari, ia membaca iklan di sebuah majalah tentang herbal diabetes: ALBIBET. Tanpa berpikir panjang nomor yang tertera di iklan itu ia hubungi. Setelah konsultasi dengan tim konsultasi kesehatan ALBIBET, ia putuskan untuk memesan ALBIBET.

    Selain mengonsumsi ALBIBET, ibu Munawaroh juga mengikuti saran-saran yang diberikan. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kadar gula darahnya turun 100 mg/dL menjadi 200-an mg/dL. Melihat perkembangan ini, ia memesan kembali ALBIBET. dan, perlahan ia tinggalkan obat medis.

    Ia mendapati banyak manfaat dari ALBIBET. Selain, kadar gula darahnya turun, tubuhnya juga bugar, fresh, dan tidak lemas lagi. Kesemutan berkurang drastis. Ia sudah kuat berjalan kembali dan membantu anaknya membersihkan rumah. Kabar terakhir, ibu Munawaroh sudah sehat kembali setelah mengonsumsi ALBIBET. Alhamdulillah.

  3. Bpk. Kuat, Pedagang.
    Tahun 2011 kemarin, Pak Kuat menunaikan ibadah haji ke tanah suci disertai rasa was-was. Penyebabnya, tidak lain karena penyakit gula yang ia derita. Satu hal yang ia yakini, bahwa Allah pasti membantunya selama menjalani ibadah ini. Ia pun tak bosan-bosan berdoa agar diberikan kekuatan dan kesehatan. Sungguh, penyakit gula yang dideritanya cukup merepotkan. Ia kerap lemas. Badan jadi mudah capek.

    Allah mengabulkan doanya. Saat menjalani ibadah haji ia berkenalan dengan pak Ilyas, teman satu kelompoknya. Pak Ilyas memberikan saran agar pak Kuat mengonsumsi ALBIBET. Herbal untuk membantu mengatasi penyakit Diabetes Mellitus. Menurut pak Ilyas, sudah banyak yang cocok.
    Sepulang dari tanah suci, pak Kuat segera membeli ALBIBET. Lalu, ia konsumsi sesuai anjuran. Sebelum mulai mengkonsumsi ia sempatkan mengecek gula darah. Hasilnya, di atas 500 mg/dL. Kemudian setelah habis 1 botol, ia mengecek lagi. Gula darahnya menurun hingga 130. Alhamdulillah… Tidak hanya itu, ia merasakan tubuhnya lebih bugar dan tidak lungkrah.

    dengan izin Allah, Pak Kuat sembuh. Hal ini ia ceritakan kepada teman-temannya yang juga menderita penyakit gula. Ia menganjurkan kepada teman-temannya yang menderita penyakit gula agar mengonsumsi ALBIBET.

  4. Ibu Katijah, 58 tahun, Petani Karet, Lampung.
    Namanya Katijah. Seorang ibu rumah tangga. Usianya 58 tahun. Beliau adalah transmigran dari Jawa yang kini tinggal di daerah Lampung. Bersama sang suami, ia mengelola kebun karet.

    Suatu hari, kaki ibu Katijah terluka terkena gesekan rerumputan dan ranting tanaman perdu liar. Entah mengapa, luka itu tidak sembuh-sembuh. dan, ketika periksa ke puskesmas, ternyata diketahui Ibu Katijah mengidap penyakit gula. Ia tidak menyangka, bakal terkena penyakit gula. Awalnya, ia hanya merasa selalu lapar, haus dan mudah lemas. Ternyata, apa yang ia rasakan itu adalah gejala diabetes.

    Berobat jalan justru membuat kondisi kesehatan Ibu Katijah memburuk. Lukanya tak juga kunjung sembuh. Malahan, berair. Hingga suatu waktu, suami dan anaknya mengajak berobat ke rumah sakit. dari dokter, didapati keterangan bahwa kaki ibu Katijah sudah membusuk harus diamputasi. Mulai dari mata kaki ke bawah. Kata dokter, dikhawatirkan akan menjalar ke atas. Mereka sekeluarga kaget. Ibu Katijah menangis seketika. Besarnya biaya amputasi tentu perlu dipikirkan jalan keluarnya.

    Setiba di rumah, ibu Katijah dan suami gamang, terbayang bagaimana kalau tidak punya kaki utuh. Vonis dokter itu benar-benar membuatnya stress. Hal itu membuat kesehatannya drop. Melihat hal itu, sang suami membawanya ke pengobatan alternatif. Salah satu terapi yang dijalani selain mengatur pola makanan adalah mengonsumsi ALBIBET.

    Setelah mengonsumsi 1 botol pertama, tubuhnya ringan, tidak kebas lagi, tidak lemesan dan lebih bugar. Ibu Katijah semakin yakin, ALBIBET adalah jawaban atas kegalauannya selama ini. Benar saja, luka di kakinya kering dan sembuh. Alhamdulillah.. Ia terbebas dari bayang-bayang amputasi.

  5. Bapak Jiman, Pensiunan Guru, 62 Tahun, Klaten.
    Namanya Jiman. Seorang pensiunan Guru, yang kini usianya menginjak 63 tahun. Di usianya yang senja itu, ia harus berjuang keras mencari obat atas keluhan yang ia rasakan. Badannya lungkrah (lemas). Tubuhnya gruyah-gruyuh, seperti kehilangan keseimbangan. Selain itu, kakinya juga menghitam, terasa panas dan seperti dikerubuti semut. Guna mengurangi deritanya,pak Jiman rajin menempelkan koyo di kakinya.

    Selidik punya selidik, ternyata pak Jiman menderita Diabetes Mellitus. kadar gulanya di atas 300mg/dL. Bahkan, pernah mencapai angka 525 mg/dL. Kondisi itu membuatnya harus menjalani terapi suntik insulin mandiri. Ukuran suntiknya 26. Pak Jiman merasakan hal yang aneh dengan kebiasaan barunya itu. Setiap kali menyuntikan insulin, seolah-olah, ia adalah seorang pecandu narkoba yang sedang sakau (ketagihan).

    Iklan di sebuah surat kabar, yang dibawa anaknya, memberinya secercah harapan. Keinginannya untuk sembuh memberinya kekuatan tersendiri. Bergegas, ia membeli produk ALBIBET.

    Alhamdulillah… baru mengonsumsi beberapa kapsul, Pak Jiman merasakan perubahan. Penglihatannya lebih jelas, lebih bugar, hidup lebih bergairah.
    Alhasil, saat ini, kadar suntik insulinnya tinggal separuh. Keluhan-keluhan yang dulu ia rasakan juga sirna. Meski sudah membaik, ia tetap mengonsumsi ALBIBET agar memudahkannya merealisaikan cita-citanya. Tahun 2020, insyaAllah, Pak Jiman melaksanakan ibadah haji.

  6. Suwarto, 57 Tahun, Margahayu Kencana, Bandung
    Ayah saya adalah seorang pensiunan. Beliau menderita diabetes setahun lebih. Selama itu, beliau harus menjalani diet ketat. Juga, senantiasa ke dokter. dan selama itu pula, beliau harus mengonsumsi obat-obatan medis.Sebab,menurut paramedis, penderita diabetes mellitus harus mengonsumsi obat seumur hidupnya guna mengontrol gula kadar dalam darah. Padahal, sejauh yang saya tahu, jika mengonsumsi obat-obatan kimia seumur hidup bukannya menyelesaikan masalah tapi malah mengundang datangnya penyakit baru.

    Seiring berjalannya waktu, saya mencoba mencari obat alternatif untuk penyakit diabetes ayah saya. Pilihan saya jatuh ke ALBIBET. Walaupun didasari coba-coba, tetapi saya berharap ALBIBET menjadi solusi kesehatan orangtua saya.

    Setelah mengonsumsi ALBIBET, alhamdulillah, kondisi fisik ayah saya membaik. yang biasanya pucat, loyo dan mudah lelah sekarang wajah beliau bugar, badannya enteng dan lebih fresh. Berbeda sekali dengan keadaan dimana beliau masih mengonsumsi obat medis. Walaupun kontrol ke dokter sebulan dua kali, tapi tidak ada perubahan berarti.

    Membaiknya kondisi kesehatan ayah meyakinkan saya bahwa ALBIBET sebagai solusi yang selama ini kami cari. Saat ini kadar gula ayah menurun, dari 200an menjadi 140an. Demikian juga dengan ibu saya. Berhubung usia dan keluhan kesehatan beliau berdua sama, maka, saya berikan terapi herbal yang sama.

    Akhirnya, kami menemukan solusi atas ketergantungan terhadap obat dengan mengonsumsi herbal yang telah mendapat sertifikasi Badan POM.

  7. Ibu Sumarni, 60 Tahun.
    Nama saya Sumarni, umur 60 tahun, sudah kurang lebih 12 tahun menderita diabetes tipe kering  sehingga badan saya jadi kurus sekali. Sudah sering saya berobat, keluar masuk rumah sakit bahkan sempat diopname beberapa kali karena kadar gula sangat tinggi. 450 mg/dL. Berbagai macam pengobatan alternative juga sudah saya lakukan. obat-obatan herbal juga sudah banyak yang saya konsumsi tapi tidak menunjukkan hasil yang signifikan.

    Beberapa waktu lalu kadar gula saya naik lagi sampai 420 mg/dL pengaruh dari itu punggung saya jadi sakit sekali apalagi kalau mau bangun tidur/duduk sakitnya bukan main. Sudah diperiksa ke rumah sakit tapi tidak hilang-hilang rasa sakitnya karena kadar gulanya belum turun. Akhirnya, suatu saat anak saya memabaca salah satu tabloid dan tidak sengaja menemukan artikel yang berjudul “Siapa Bilang Diabetes Tidak Bisa Disembuhkan” karena tertarik maka dibaca sampai tuntas dan sampailah pada suatu produk yang bernama “ALBIBET”.

    Tanpa pikir panjang anak saya langsung pesan 2 botol. Selang beberapa hari, kiriman nyampe langsung dikasihkan saya dan saya konsumsi 3 x 3 per hari. Alhamdulillah baru dua hari minum sakit dipunggung saya berangsur-angsur hilang setelah itu saya cek lagi kadar gula saya ternyata sudah turun sampai 350 dan sakit di punggung saya sekarang sudah hilang.

    Sampai saat ini saya masih mengkonsumsi ALBIBET tapi dosisnya sudah turun jadi 2×3 per hari. Terima kasih ALBIBET. Berkat  ALBIBET, Alhamdulillah Allah SWT berikan saya keringanan atas sakit yang saya derita. Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan dan kesehatan kepada saya.

  8. Pak Rachmat, Solo.
    Pak Rachmat bekerja di salah satu RS Swasta di Solo. Ia mengidap Diabetes Mellitus (penyakit gula) sudah lima tahun. Selama lima tahun pula ia sudah mengonsumsi berbagai obat medis. Oral dan juga injeksi insulin, namun semuanya belum menampakkan hasil yang diharapkan.

    Ia sudah menderita gangrene, luka yang tidak sembuh-sembuh karena kadar gula yang tinggi. Terasa gatal akan tetapi jika digaruk akan menjadi luka baru dan juga tidak sembuh-sembuh.

    Diantara sedih dan harap atas sakitnya ini, saat membaca membaca tentang penjelasan dan testimoni tentang ALBIBET, ia mencoba membelinya, barangkali ini jalan kesembuhannya.

    ALBIBET yang ia beli segera dikonsumsi sesuai petunjuk. dengan izin Allah, setelah habis 1 botol ia merasakan manfaat yang luar biasa. tubuh lebih bugar, tidak lemesan dan luka gangrene-nya pun mulai mengering dan bisa sembuh. Saat cek kadar gula darahnya pun sudah 150 mg/dL.

    Semenjak itu, ia kontinyu minum ALBIBET untuk memastikan kesehatannya lebih maksimal. Ia sangat senang bisa berbagi cerita tentang kesehatannya. Awalnya, ia pesimis karena adanya vonis dokter bahwa penderita diabetes tidak bisa disembuhkan. Ternyata, vonis itu keliru. Diabetes bisa disembuhkan.

Comments are closed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.