• Jam Buka Toko: Jam 08.30 s/d 17.00 WIB
  • Status Order
  • Tlp: +6285743448960
  • SMS/WA: +6285743448960
  • distroherbal1@gmail.com
  • Layanan Online:
Terpopuler:

فضله طالب العلم, Keutamaan Menuntut Ilmu Syar’i

20 December 2013 - Kategori Blog

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukan Ulama

images
Tidak diragukan lagi bahwasanya pengetahuan para penuntut ilmu terhadap kemuliaan yang
besar yang akan mereka dapati dengan menuntut ilmu dan kedudukan yang tinggi yang akan
mereka peroleh, akan menjadikan mereka paling bersemangat dalam menempuh jalannya
ilmu dan belajar, dan beradab dengan adab-adab yang syar’i yang akan menambah kedudukan
dan keutamaan mereka di sisi Allah Subhaanah, serta akan meninggikan kemuliaan mereka
dan akan terbuktilah kemanfaatan mereka terhadap manusia.
Ayat-ayat Al-Qur`an yang Menjelaskan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukan
Ulama
Allah Ta’ala berfirman menerangkan keutamaan ulama dan apa-apa yang mereka miliki dari
kedudukan dan ketinggian:

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(Az-Zumar:9)

Dan Allah juga berfirman:

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang
yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah:11)

Ditinggikannya derajat dengan beberapa derajat, ini menunjukkan atas besarnya keutamaan,
dan ketinggian di sini mencakup ketinggian maknawiyyah di dunia dengan tingginya
kedudukan dan bagusnya suara (artinya dibicarakan orang dengan kebaikan) dan mencakup
pula ketinggian hissiyyah (yang dirasakan oleh tubuh dan panca indera) di akhirat dengan
tingginya kedudukan di jannah. (Fathul Baarii 1/141)

Di antara dalil yang menunjukkan atas keutamaan ilmu dan wajibnya meminta tambahan
darinya adalah firman Allah Ta’ala yang memerintahkan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa
sallam:

 ”Dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu (agama).” (Thaahaa:114)

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk meminta tambahan dari sesuatu kecuali meminta tambahan dari ilmu dan ilmu yang
dimaksudkan di sini adalah ilmu syar’i yang akan menjadikan seorang hamba mengenal
Rabbnya Subhaanah dan mengetahui apa-apa yang diwajibkan atas seorang mukallaf dari
perkara agamanya dalam ibadah dan muamalahnya. (Fathul Baarii 1/141)
Sungguh Allah telah memuliakan ilmu dan ulama dengan memberikan kepada mereka
kebaikan yang umum dan menyeluruh sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:

“Allah menganugrahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-
Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia
benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah
yang dapat mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah:269)

Berkata Mujahid: Allah menganugrahkan Al-Hikmah, yaitu ilmu dan pemahamannya.
(Akhlaaqul ‘Ulamaa`, Al-Imam Abu Bakr Al-Ajurriy hal.9)
Demikian juga di antara dalil-dalil yang menguatkan akan pentingnya ilmu dan keharusan
mencarinya adalah firman Allah Ta’ala:

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang berhak diibadahi) melainkan
Allah, dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki
dan perempuan.” (Muhammad:19)

Maka (seseorang) harus memulai dengan ilmu sebelum beramal sebagaimana dikatakan oleh
Al-Imam Al-Bukhariy,
باب العلم قبل القول والعمل
(Shahiihul Bukhaariy, Kitaabul ‘Ilmi, Baabul ‘Ilmi Qablal Qauli wal ‘Amal)
Adapun ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mempunyai buah yang agung, dan yang
paling menonjolnya adalah adanya rasa khasy-yah kepada Allah Subhaanah dari pemiliknya.
Maka ulama adalah manusia yang paling takut kepada Rabbnya, karena apa yang telah
mereka pelajari dari ilmu yang akan menambah pengetahuan mereka kepada Rabbnya dan
akan mengokohkan keimanan yang ada pada hati-hati mereka. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”
(Faathir:28)

Ulama adalah orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang lurus dan pemahaman yang
mendalam, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-‘Ankabuut:43)

Hadits-hadits yang Menerangkan Keutamaan Menuntut Ilmu dan Kedudukannya
Terdapat kitab-kitab yang mengandung beratus-ratus hadits yang mulia, di mana dalam
hadits-hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada ilmu dan
menganjurkan atasnya serta menerangkan kedudukan ulama dan kemuliaannya dan apa-apa
yang selayaknya dimiliki oleh mereka agar berakhlak dengannya dan bersemangat atasnya.
Di dalam Shahiihul Bukhaariy, misalnya, terdapat lebih dari seratus hadits yang menjelaskan
masalah ilmu, mencarinya dan anjuran atasnya, dan sungguh Al-Imam Al-Bukhariy telah
menyendirikan pembahasan ilmu dengan membuat satu kitab khusus,
كتاب العلم
(yaitu Kitabul ‘Ilmi) dalam Shahih-nya dan beliau tempatkan setelah Kitabul Iman.
Demikian juga kitab-kitab sunnah lainnya yang padanya terdapat sejumlah hadits yang banyak
dari hadits-hadits yang marfu’ dan atsar-atsar yang mauquf kepada shahabat dan tabi’in, yang
semuanya mengisyaratkan kepada kedudukan yang agung yang kembalinya kepada ulama,
dan kedudukan yang tinggi yang Allah muliakan penuntut ilmu dengannya.
Di antara hadits-hadits tersebut adalah:

1. Dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya, niscaya Allah akan pahamkan dia
tentang agama(nya).” (Muttafaqun ‘alaih)

Pemahaman terhadap agama merupakan di antara kebaikan yang terbesar yang Allah berikan
kepada hamba-hamba-Nya. Dan orang yang tidak mau tafaqquh fiddiin (mempelajari dan
memahami agamanya) berarti telah diharamkan dari berbagai kebaikan.

2. Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:

“Perumpamaan apa yang aku bawa dari petunjuk dan ilmu adalah seperti air hujan yang
banyak yang menyirami bumi, maka di antara bumi tersebut terdapat tanah yang subur,
menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan ilalang yang banyak. Dan di antaranya terdapat
tanah yang kering yang dapat menahan air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia
dengannya sehingga mereka bisa minum darinya, mengairi tanaman dengannya dan bercocok
tanam dengan airnya. Dan air hujan itu pun ada juga yang turun kepada tanah/lembah yang
tandus, tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput-rumputan. Itulah
perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan orang yang mengambil manfaat
dengan apa yang aku bawa, maka ia mengetahui dan mengajarkan ilmunya kepada yang
lainnya, dan perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali dengan ilmu tersebut dan
tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Al-Bukhariy)

Di dalam hadits ini terdapat pengarahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar
bersemangat terhadap ilmu dan belajar, yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan
perumpamaan terhadap apa yang beliau bawa dengan hujan yang menyeluruh di mana
manusia mengambil dan memanfaatkan air hujan tersebut untuk memenuhi kebutuhan
mereka.
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan orang yang mendengar ilmu yang
beliau bawa dengan bumi/tanah yang bermacam-macam yang air hujan turun padanya:
– Di antara mereka ada orang yang berilmu, beramal dan mengajarkan ilmunya kepada yang
lainnya, maka orang ini seperti tanah yang baik, yang menyerap air lalu memberikan manfaat
pada dirinya dan menumbuhkan tanaman dan rumput-rumputan sehingga memberikan
manfaat bagi yang lainnya.
– Di antara mereka ada yang mengumpulkan ilmu yang dia sibuk dengannya, di mana ilmu
tersebut dimanfaatkan pada masanya dan masa setelahnya dalam keadaan dia belum bisa
mengamalkan sebagian darinya atau belum bisa memahami apa yang dia kumpulkan, akan
tetapi dia sampaikan kepada yang lainnya, maka orang ini seperti tanah yang menahan air
sehingga manusia dapat mengambil manfaat darinya.
– Dan di antara mereka ada orang yang mendengar ilmu tetapi tidak menghafalnya, tidak
beramal dengannya dan tidak pula menyampaikannya kepada yang lainnya, maka orang ini
seperti tanah lumpur atau tanah tandus yang tidak dapat menerima/menampung air.
Tidaklah dikumpulkan dalam perumpamaan tersebut antara dua kelompok yang pertama
kecuali karena kebersamaan mereka dalam kemanfaatan dari ilmu yang mereka miliki
walaupun derajat kemanfaatannya bertingkat-tingkat. Dan disendirikanlah kelompok ketiga
yang tercela karena tidak adanya kemanfaatan darinya. (Fathul Baarii 1/177)
Dan tidak diragukan lagi bahwasanya terdapat perbedaan yang besar antara orang yang
menempuh jalannya ilmu lalu dia memberikan manfaat pada dirinya dan manusia pun
mengambil manfaat darinya dan antara orang yang rela dengan kebodohan dan hidup dalam
kegelapannya sehingga dia tidak mendapat bagian sedikit pun dari warisannya para Nabi.

3. Dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan
mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para
malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan
sesungguhnya seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhlukmakhluk
Allah yang di langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun
memintakan ampun untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas
seorang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh
bintang, dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah
mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka
barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat
banyak.” (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy no.2683, dan isnadnya hasan, lihat Jaami’ul
Ushuul 8/6)

Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang pemuliaan yang besar yang akan didapatkan
oleh penuntut ilmu, di mana para malaikat meletakkan sayap-sayapnya untuknya sebagai
sikap tawadhu’ dan penghormatan kepadanya, demikian juga makhluk-makhluk yang banyak
baik yang di langit, di bumi maupun di lautan dan makhluk lainnya yang tidak ada yang
mengetahui jumlahnya kecuali Allah Subhaanah, semua makhluk tadi memintakan ampun
kepada Allah untuk penuntut ilmu dan mendo’akan kebaikan untuknya.
Cukuplah bagi seorang penuntut ilmu sebagai kebanggaan bahwasanya dia adalah orang yang
sedang berusaha untuk mendapatkan warisannya para Nabi, dan dia meninggalkan ahli dunia
terhadap dunianya yang telah dikumpulkan di atas hidangannya oleh para pecintanya di mana
mereka sibuk dengan perhiasannya dan berebutan kepadanya.

4. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Semoga Allah memuliakan seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia
menyampaikannya (kepada yang lain) sebagaimana yang dia dengar, maka kadang-kadang
orang yang disampaikan ilmu lebih memahami daripada orang yang mendengarnya.” (HR. At-
Tirmidziy no.2659 dan isnadnya shahih, lihat Jaami’ul Ushuul 8/18)

Keutamaan ini, tidak diragukan lagi merupakan keutamaan yang besar bagi penuntut ilmu, di
mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akannya dengan kemuliaan dan
kecerdasan karena apa yang dia lakukan dari mempelajari ilmu, menghapal hadits,
mengajarkannya dan menyampaikannya kepada yang lainnya, dan dia tetap akan diberi pahala
terhadap apa yang disampaikan walaupun terluput atasnya sebagian makna-makna riwayat
yang dia sampaikan, karena dia telah menjaganya dan menyampaikannya dengan jujur.

5. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda:

“Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga
hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih yang
mendo’akannya.” (HR. Muslim no.1631)

Betapa besarnya kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang berilmu berupa pahala dan
kebaikan-kebaikan yang banyak. Dan pahala tadi akan terus mengalir kepadanya tanpa
terputus selama ilmunya disampaikan oleh murid-muridnya dari generasi ke generasi
berikutnya, dan selama kitab-kitabnya dan tulisan-tulisannya dimanfaatkan oleh para hamba di
berbagai negeri.
Dan seperti inilah pahala dan ganjaran orang yang berilmu akan tetap sampai kepadanya
setelah kematiannya dengan sebab ilmu yang telah dia tinggalkan untuk manusia, di mana
mereka mengambil manfaat terhadap ilmunya tersebut.
Nasehat Salafush Shalih untuk Kaum Muslimin
Setelah dipaparkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan ilmu dan
keutamaannya pada edisi yang lalu, sekarang akan dibawakan beberapa atsar yang berisi
nasehat dan keterangan akan pentingnya ilmu dan mempelajarinya.

Pertama: Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan
menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah
yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun
diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati
manusia.” (Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)

Kedua: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila melihat para
pemuda giat mencari ilmu, beliau berkata:
“Selamat datang wahai sumber-sumber hikmah dan para penerang kegelapan. Walaupun
kalian telah usang pakaiannya akan tetapi hati-hati kalian tetap baru. Kalian tinggal di rumahrumah
(untuk mempelajari ilmu), kalian adalah kebanggaan setiap kabilah.” (Jaami’ Bayaanil
‘Ilmi wa Fadhlih, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr, 1/52)
Yakni bahwasanya sifat mereka secara umum adalah sibuk dengan mencari ilmu dan tinggal di
rumah dalam rangka untuk mudzaakarah (mengulang pelajaran yang telah didapatkan) dan
mempelajarinya. Semuanya ini menyibukkan mereka dari memperhatikan berbagai macam
pakaian dan kemewahan dunia secara umum demikian juga hal-hal yang tidak bermanfaat
atau yang kurang manfaatnya dan hanya membuang waktu belaka seperti berputar-putar di
jalan-jalan (mengadakan perjalanan yang kurang bermanfaat atau sekedar jalan-jalan tanpa
tujuan yang jelas) sebagaimana yang biasa dilakukan oleh selain mereka dari kalangan para
pemuda.

Ketiga: Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Pelajarilah oleh kalian ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah khasyyah;
mencarinya adalah ibadah; mempelajarinya dan mengulangnya adalah tasbiih;
membahasnya adalah jihad; mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya adalah
shadaqah; memberikannya kepada keluarganya adalah pendekatan diri kepada Allah; karena
ilmu itu menjelaskan perkara yang halal dan yang haram; menara jalan-jalannya ahlul jannah,
dan ilmu itu sebagai penenang di saat was-was dan bimbang; yang menemani di saat berada
di tempat yang asing; dan yang akan mengajak bicara di saat sendirian; sebagai dalil yang
akan menunjuki kita di saat senang dengan bersyukur dan di saat tertimpa musibah dengan
sabar; senjata untuk melawan musuh; dan yang akan menghiasainya di tengah-tengah
sahabat-sahabatnya.
Dengan ilmu tersebut Allah akan mengangkat kaum-kaum lalu menjadikan mereka berada
dalam kebaikan, sehingga mereka menjadi panutan dan para imam; jejak-jejak mereka akan
diikuti; perbuatan-perbuatan mereka akan dicontoh serta semua pendapat akan kembali
kepada pendapat mereka. Para malaikat merasa senang berada di perkumpulan mereka; dan
akan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya; setiap makhluk yang basah dan yang kering
akan memintakan ampun untuk mereka, demikian juga ikan yang di laut sampai ikan yang
terkecilnya, dan binatang buas yang di daratan dan binatang ternaknya (semuanya
memintakan ampun kepada Allah untuk mereka). Karena sesungguhnya ilmu adalah yang
akan menghidupkan hati dari kebodohan dan yang akan menerangi pandangan dari berbagai
kegelapan. Dengan ilmu seorang hamba akan mencapai kedudukan-kedudukan yang terbaik
dan derajat-derajat yang tinggi baik di dunia maupun di akhirat.
Memikirkan ilmu menyamai puasa; mempelajarinya menyamai shalat malam; dengan ilmu
akan tersambunglah tali shilaturrahmi, dan akan diketahui perkara yang halal sehingga
terhindar dari perkara yang haram. Ilmu adalah pemimpinnya amal sedangkan amal itu adalah
pengikutnya, ilmu itu hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berbahagia; sedangkan
orang-orang yang celaka akan terhalang darinya.”
Keempat: Dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Sesungguhnya seseorang keluar dari rumahnya dalam keadaan dia mempunyai dosa-dosa
seperti gunung Tihamah, akan tetapi apabila dia mendengar ilmu (yaitu mempelajari ilmu
dengan menghadiri majelis ilmu), kemudian dia menjadi takut, kembali kepada Rabbnya dan
bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak mempunyai dosa. Oleh karena
itu, janganlah kalian meninggalkan majelisnya para ulama.” (Miftaah Daaris Sa’aadah, karya
Al-Imam Ibnul Qayyim, 1/77)
Dan beliau juga berkata: “Wahai manusia, wajib atas kalian untuk berilmu (mempelajari dan
mengamalkannya), karena sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai selendang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang mempelajari satu bab dari ilmu, Allah akan selendangkan dia dengan
selendang-Nya. Apabila dia terjatuh pada suatu dosa hendaklah meminta ampun kepada-Nya,
supaya Dia tidak melepaskan selendang-Nya tersebut sampai dia meninggal.”

Kelima: Berkata Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku mempelajari satu masalah
dari ilmu lebih aku cintai daripada shalat malam.”
Bukan berarti kita meninggalkan shalat malam, akan tetapi ini menunjukkan bahwa
mempelajari ilmu itu sangat besar keutamaannya dan manfaatnya bagi ummat.

Keenam: Dari Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullaah, beliau berkata:
“Sungguh aku mempelajari satu bab dari ilmu lalu aku mengajarkannya kepada seorang
muslim di jalan Allah (yaitu mempelajari dan mengajarkannya karena Allah semata) lebih aku
cintai daripada aku mempunyai dunia seluruhnya.” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya
Al-Imam An-Nawawiy, 1/21)

Ketujuh: Dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullaah, beliau berkata: “Tidak ada sesuatupun yang
lebih utama setelah kewajiban-kewajiban daripada menuntut ilmu.”
Adapun bait-bait sya’ir yang menjelaskan tentang permasalahan ilmu dan kedudukannya itu
sangat banyak dan tidak bisa dihitung, dan di sini hanya akan disebutkan dua di antaranya:
Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu)
karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk bagi orang yang meminta dalil-dalilnya
dan derajat setiap orang itu sesuai dengan kebaikannya (dalam masalah ilmu)
sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi ahlul ilmi.
Dan sya’irnya Al-Imam Asy-Syafi’i:

Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan tidaklah
orang yang berilmu seperti orang yang bodoh.
Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu
adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu).
Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah
kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu.
Wallaahul Muwaffiq, Wallaahu A’lam.

Comments are closed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.